[Movie Review] Gundala, Sang Pahlawan Pembuka Jagat Sinema Bumilangit
![]() |
| Gundala (2019) |
Tanpa ingin menyebar banyak spoiler di hari pertama penayangan film Gundala, saya cuma punya satu kata untuk Gundala, apik! Apa Gundala adalah film yang sempurna? Tentu tidak. Semua akan saya jelaskan sebisa dan sepengamatan mata pribadi saya. Pengetahuan saya tentang Gundala hanyalah berdasarkan film Gundala dari Jagat Sinema Bumilangit.
Gundala adalah gerbang pembuka bagi Jagat Sinema Bumilangit. Gundala mengisahkan cerita tentang perjalanan putra petir bernama Sancaka. Film ini terbagi dari dua sesi, Sancaka kecil dan juga Sancaka dewasa. Dalam masa kecilnya, kita akan disuguhkan dengan perjuangan hidup Sancaka kecil yang terlahir dari keluarga buruh pabrik. Sancaka adalah pemuda yang sangat takut dengan petir, dikala badai, Sancaka selalu bersembunyi dibalik sesuatu agar tak tersambar petir.
Disisi lain, Sancaka dewasa adalah hasil dari perjuangan Sancaka kecil dalam mengarungi hidupnya yang sangat susah, penuh dengan lika-liku yang seharusnya tak dilalui oleh seorang anak kecil. Namun karena itu pula, Sancaka dapat bertemu dengan seseorang yang mampu menyelamatkannya dan juga melatih dirinya agar mampu melindungi diri sendiri. Saya tak ingin bercerita terlalu banyak tentang film Gundala ini, karena sekecil apapun spoiler dari Gundala akan dapat merusak sensasi menonton film ini, layaknya film Avengers: Endgame.
Terlalu berat rasanya jika film ini dibandingkan dengan Avengers ataupun film-film produksi Marvel Studios lainnya. Namun patut diapresiasi seluruh kerja keras tim dibalik Gundala ini, dengan Gundala, Indonesia mempunyai film superhero yang bisa dibanggakan dikancah nasional maupun internasional.
Marvel Cinematic Universe (MCU) adalah kiblat dari Jagat Sinema Bumilangit ini. Tentu kita akan selalu ingat bahwa film-film MCU selalu menampilkan film yang ramah terhadap keluarga dan juga komedi yang segar membuat seluruh penonton tertawa bersama. Gundala sangat mencerminkan film-film MCU, jokes yang segar dan penempatan yang sangat tepat sangat menggelitik perut para penonton seisi bioskop. Pengambilan sudut kamera yang cukup apik membuat saya terkagum-kagum dengan film Gundala.
Gundala adalah awal mula dari lahirnya Jagat Sinema Bumilangit, ya saya tidak berekspektasi terlalu banyak pada awalnya. Namun yang disajikan sudah sangat cukup memenuhi ekspektasi saya, film-film Indonesia selalu terkenal dengan humor receh yang sejujurnya membuat saya sangat sulit tertawa. Namun Gundala berhasil membuat saya tertawa bersama seluruh penonton. Selain penempatan humor yang tepat, Gundala juga adalah film yang serius.
Adegan dari setiap perkelahian Sancaka dan lawan-lawannya mengingatkan saya terhadap film The Raid. Perbedaannya, hanyalah darah. Ya, Gundala adalah film keluarga (terdapat sedikit kata-kata kasar yang dikeluarkan, jadi bijaklah untuk tidak menggunakannya sehari-hari ya) dan sangat sedikit sekali menampilkan darah yang mungkin bisa membuat takut para penonton. Walaupun tanpa darah yang menetes, seluruh adegan pertarungan yang terjadi sangat amatlah bagus dan saya rasa memenuhi seluruh ekspektasi yang ada.
Kita akan membahas poin minus dari Gundala sekarang. Mungkin semua orang yang sudah menonton trailer dari Gundala bisa menebak dimana kekurangan Gundala, ya, visual efek. Visual efek dari Gundala ini, cukup baik namun tidak bisa dikatakan bagus. Pada beberapa adegan, saya sempat mengerutkan dahi dikarenakan anehnya visual efek dari Gundala. Tidak terlalu mengganggu keseluruhan film memang, tapi cukup mencolok dan membuat kita berkata "hah?". Gundala adalah putra petir, sudah sangat jelas film ini akan menampilkan petir di berbagai adegan, apakah petir yang digunakan adalah petir asli dari alam? Tentu tidak. Visual efek yang diberikan untuk adegan yang menggunakan petir-petir ini adalah cukup. Tidak bagus dan juga tidak jelek, untuk sekelas film Indonesia, ini sudah cukup.
![]() |
| Jagat Sinema Bumilangit Jilid 1 |
Disamping visual efek, poin minus yang ada pada Gundala juga tentang rentan waktu kejadian yang tidak terlalu dibahas lebih lanjut. Disaat film memasuki pertengahan cerita, alur dari Gundala terlihat cukup berantakan tanpa adanya penjelasan. Sesi pertengahan sampai akhir Gundala, saya rasa cukup terasa buru-buru agar film dapat cepat rampung. Kemunculan karakter-karakter lain saya rasa cukup singkat tanpa adanya penjelasan lebih lanjut tentang siapa mereka. Sangat banyak pertanyaan dalam kepala saya yang saya harap akan bisa terjawab dalam film-film Jagat Sinema Bumilangit selanjutnya.
Akting para pemain yang berperan dalam film Gundala pun patut diacungi jempol. Semua pihak berperan dengan sangat baik, dan aktor Abimana Aryasatya pun berperan dengan sangat baik sebagai Sancaka.
Harapan saya sangatlah besar terhadap film-film Jagat Sinema Bumilangit, Gundala membuat saya bergairah akan masa depan Jagat Sinema Bumilangit. Saya berharap dengan adanya projek ini, perfileman Indonesia kedepannya bisa menjadi lebih baik, tidak sendat di satu tema yang itu-itu saja. Gundala adalah angin segar bagi perfileman dalam negeri. Jika kalian sudah menonton atau bahkan mau menonton Gundala di bioskop-bioskop kesayangan, silahkan menikmati dan teruslah mendukung perfileman dalam negeri agar mampu menjadi lebih baik lagi. Bravo to Jagat Sinema Bumilangit!
Information
Title: Gundala
Release Date: 29 Agustus 2019 (Indonesia)
Genre: Action, Superhero
Starring: Abimana Aryasatya (Sancaka), Tara Basro (Wulan), and Bront Palarae (Pengkor)
Directed by: Joko Anwar
Produced by: Sukhdev Singh, Wicky Olindo, and Bismarka Kurniawan
Written by: Joko Anwar
Distributed by: Screenplay Films, Bumilangit Studios, and Legacy Pictures




Nice review, terima kasih gan (ว ̇∇ ̇)ง
ReplyDeleteMakasih juga gan :D
Delete